• Menu
  • Menu

Pemandangan Indah Pulau Miyajima

Badai Salju dan Turun Gunung

Tak berapa lama kabut menyapa. Laut di ujung cakrawala yang tadinya nampak jelas menjadi putih polos. Salju juga mulai turun kembali. Turun. Makin lama makin menumpuk di lantai. Udara yang sudah cukup dingin mulai menusuk tebalnya jaket. Kami semakin khawatir. Jalan yang naik aja licin kayak tadi, gimana turunnya…

Saya iseng turun duluan dari observation deck, dan di depan saya ada mbak-mbak yang turun tangga tampak terburu-buru. Dua tiga detik kemudian, gerburaakk… Si mbak terbang dari tengah tangga ke bawah… Terjerembab. Saya, refleks… Turun dengan kecepatan tinggi. Hampir juga terpeleset, tapi untung sedang fokus tingkat tinggi. Sampai di bawah, saya menghampiri si mbak.

大丈夫?

Saya bertanya ke mbak yang masih terkapar di lantai, nggak papa mbak? 

。。。

Pertanyaan bodoh, jelas apa-apa lah. Tangannya berdarah, dari jari manis atau kelingking mungkin. Mungkin itu sebab si mbak langsung lari menjauh…

Saya lupa, mbak ini mbak yang sama dengan foto di atas atau nggak. Kalau nggak salah inget sih sama, tapi kok setelah cek foto jaketnya beda.

Tak berapa lama saya memanggil Sidik untuk cepat-cepat turun dari area puncak. ASAP harus kembali ke daerah pantai. Entar gak bisa pulang pula. It’s a state of emergency.

Memang benar, jalan jadi terasa makin licin. Mau lantai, mau tanah, mau batu. Licin!

Sesaat setelah keluar dari area observation deck puncak, tepat di belakang kami si mbak tadi ikut. Jari/tangannya masih berdarah, tapi berlapis tisu atau sapu tangan. Kami turun perlahan tapi pasti. Di belakangkabut dan badai salju mengejar. Kami tidak sempat ngobrol, berfoto, atau berhenti menikmati pemandangan lagi. Fokus kami hanya satu, kaki. Tujuan kami satu, bertahan hidup.

Pengunjung yang turun saling tolong menolong dalam grup kecil-kecil, beriringan melewati jalur setapak, menapa es. いつままにgrup kecil kami di perjalanan turun ini jadi bertiga. Karena si mbak tampak nyeri, dan jelas terlihat darah dari tangannya, kami membantui si mbak saat melewati jalan licin. Misal memberikan ranting pohon, atau menjulurkan tongkat, atau menunjukkan jalan yang confirmed punya koefisien gesek.

Perjalanan turun ini serius lebih mengerikan dari perjalanan naik. Kami banyak melihat korban bergelimpangan. Mbah-mbah kepeleset lah. Mbah-mbah kepeleset lah. Ada juga mbah-mbah kepeleset. Di jalan juga tidak jarang terlihat bercak-bercak merah, entah itu darah atau coca-cola.

Meskipun sukar, kami masih tetap bertahan. Kami mencapai stasiun Shishiwa sekitar pukul setengah 3. Baru setelah sampai stasiun kami pun mengobrol dengan kompanion baru kami. Si mbak ternyata kuliah di Tokyo, main ke Hiroshima sendirian. Ia mau mengunjungi keluarga Jepangnya di dekat Hiroshima (di Okayama atau mana gitu)…

Kami turun juga pakai kereta gantung. Ya iya lah! Gile aja lu ndro, hiking turun pas badai salju.Si mbak juga bareng dengan kereta kami. Saya mengira si mbak orang Jepang. Si Sidik menebak bukan. Logatnya agak aneh katanya. Sasuga, aing ora ciren

Ternyata memang bukan. Orang Vietnam. Ryugakusei juga kayak kami.

Setelah sampai di bawah, badai makin kuat. Kira-kira kalau kita berdiri di luar selama satu menit, si kupluk jaket udah jadi putih aja! Nggak pake kupluk? Muka penuh bunga es deh! Kalau masih nggak kebayang, bayangin aja hujan lebat yang bikin banjir dago itu, tapi salju. Kira-kira begitu lah…

Saya dulu mengira hujan salju itu selalu asyik. Ternyata perlu berteduh juga!

Sidik dan si mbak (1).JPG
Si Mbak (kiri), Si Sidik (kanan), dan Si Badai Salju (semua)

Sekitar setengah jam kemudian, kami bertiga sampai di daerah pantai. Dekat si Torii Itsukushima Shrine. Air lautnya sudah surut! Atau lebih tepatnya mungkin, sudah mulai pasang kembali. Perlahan airnya akan menjilati kaki si Torii dan menenggelamkan kembali pijakannya. Menghalangi para pelancong angkuh yang ingin berfoto di bawah roknya…Kami bertiga melihat kesempatan itu langsung berlari kesana. Hujan salju masih deras. Namun, kalau nggak cepat-cepat bakal nggak dapat foto lokasi paling ikonik dari si Three Scenic of Japan dong.

Kami difotoin si mbak dan si mbak difotoin sama Sidik.

Oh ya, foto featured image di paling atas artikel ini adalah foto si Torii saat badainya kencang. Dramatis banget yak…

Kami mengajak si mbak untuk kesana. Masih ramai sih, tapi sayang kan nggak melawat masuk. Ternyata si mbak mau mengejar kereta. Dia harus mampir sebentar ke rumah keluarga Jepangnya tadi, sebelum pulang ke Tokyo. Nggak seperti kami, beliau tidak memesan hotel untuk menginap di Hiroshima.

Jam menunjukkan pukul 16.30. Mentari sudah mulai melambaikan tangannya. Namun, masih ada satu tempat lagi yang belum kami jamahi. Si Kuil Itsukushima yang banyak jemaah pagi tadi.

Kami pun pamit berpisah. Tangan/jari si mbak kayaknya udah aman, dingin kan jadi sepertinya terbius lah. Nggak sakit lagi. Setelah mbaknya pergi, kami melanjutkan “perjalanan” ke dalam kuil Itsukushima.

Featured Image

Kuil Itsukushima

Setelah puas berfoto di Torii dan berpisah dengan si mbak Vietnam, kami jalan langsung menuju Itsukushima Shrine yang ada di kirinya. Harapan kami sih si kuil sudah lengang jadi bisa dipakai main dan foto sepuasnya. Hitung-hitung sambil cari tempat berteduh dari badai, sampai ia berlalu.

Menuju Kuil Itsukushima

Ternyata. Kayaknya semua orang berpikiran yang sama dengan kami. Ramainya mungkin agak berkurang dibanding tadi pagi, tapi tetap seperti pasar malam. Kalau mau berfoto, harus berjuang sambil melawan arus deras manusia.

Pemandangan di luar kuil lumayan bagus. Bangunan dengan pilar-pilar dan dinding merah dihiasi latar putihnya salju yang menumpuk di tanah dan langit badai.

Bangunannya sendiri juga asyik. Kayak di anime-anime lah. Banyak kuil di Jepang terbuat dari kayu dan bagus secara arsitektur. Namun, seringnya kayunya dibiarkan agar tampak kuno, telah melewati berbagai zaman. Biasanya minim cat, warna kayu alami.

Kuil Itsukushima ini berbeda. Semua dipoles agar tampak cantik dan terawat. Seperti masih digunakan layaknya zaman Jepang dulu. Dengan demikian, saya merasa seperti dibawa ke era Shogun.

Eksplorasi di dalam kuil cukup memakan waktu juga. Luas juga ternyata. Walaupun seringnya kami terbawa arus manusia, tetap saja menghabiskan 30 menit lamanya.

Setelah strolling di pantasi sebentar sambil menikmati turunnya salju (jarang-jarang kan bisa dapat hujan salju selebat ini), kami pun pulang ke Hiroshima. Pelabuhan sore itu tidak seramai paginya. Namun, si badai sepertinya makin malam makin berjaya.

Oh ya. Sebagai penutup, tadi saya sempat bilang kalau salju membuat segala sesuatu menjadi lebih cakep dan fotogenik kan? Tentu saja itu termasuk sobat kecil yang menyambut kami pertama kali tadi pagi, Shika si Rusa.

Rusa di salju.JPG
Ow. Em. Jii….!!!

Liburan Tahun Baru 2015, Hokuriku~Chugoku:

Artikel ini adalah seri dari petualangan 18 kippu ambisius Hokuriku sampai Chugoku pada liburan 7 hari kami pada awal tahun 2015.  Daerah tujuan utama adalah kota-kota di pantai barat Jepang. Perjalanan di JR Imbi Line ini tepat pada saat tahun baru 2015.

Rencana perjalanan secara umum ditulis pada artikel utama. Baca juga eksekusi perjalanan ada pada detail masing-masing situs berikut:

  1. Matsumoto Castle
  2. Kanazawa: Kastil Bersalju, Taman Kenroku, Museum Aneh, dan Stasiun Modern
  3. Gosong Amanohashidate dan Pagoda Salju
  4. Wisata di dalam Kereta Akamatsu, Kyoto Tango Railway
  5. Tottori Sand Dune, Gurun di Pinggir Laut
  6. Tottori Sand Dune Museum ala Rusia
  7. JR Imbi Line, Perjalanan Es dari Tottori ke Hiroshima
  8. Hiroshima Shukkeien Park
  9. Pemandangan Indah Pulau Miyajima
  10. Museum Tragedi, Hiroshima Atomic Museum
  11. Kota Hiroshima, Kastil, dan Taman Perdamaian
1 2 3

Tinggalkan Balasan